|

Mengapa Diterima Kuliah di Banyak Kampus Luar Negeri Itu Belum Tentu Spesial

Tulisan ini telah disunting dan dimuat di Mojok.co

Photo by 1Click on Unsplash

Sebagai tutor privat English conversation dewasa, saya beberapa kali mendapatkan siswa yang sedang bersiap untuk studi keluar negeri, baik S2 atau S3. Mereka pasti nanya soal cara memilih kampus, berapa universitas yang dulu saya lamar, negaranya mana saja, program studinya apa, dan sebagainya.

Saya dulu menempuh master di University of Liverpool (UoL) di Inggris. UoL itu, dulu, adalah satu dari beberapa kampus yang sudi menerima saya sebagai mahasiswa S2 dengan peringkat kampus beragam. Menariknya, semua kampus yang menerima saya itu berada di Inggris dan Australia. Sebaliknya, aplikasi saya ke satu kampus di Jerman ditolak.

Pengalaman diterima di beberapa kampus di LN saya itu tidak unik ya. Saya yakin ada banyak juga teman-teman saya yang mengalami hal serupa. Waktu itu rasanya senang dan bangga betul. Tapi ketika mulai riil menjalaninya, rasa senang dan bangga itu bergeser.

Saya ingat hari-hari pertama masuk kuliah di Management School (fakultas ekonomi) UoL. Saya terkejut. Rupanya, 80% dari 30 siswa di program saya berasal dari Cina daratan. Pola serupa saya temukan juga di beberapa program master lain. Tidak hanya di Management School, tapi juga di fakultas lain.

Satu spekulasi muncul di benak saya. Pendidikan tinggi di Inggris dan Australia itu sifatnya komersial, tidak banyak disubsidi pemerintahnya. Ini mengharuskan kampus-kampus di sana mencari penghasilan untuk beroperasi. Nah, salah satu sumbernya yang menjanjikan adalah mahasiswa internasional (berasal dari luar Eropa). Kami dikenakan biaya kuliah berlipat kali lebih mahal daripada mahasiswa asal Eropa.

Silakan dicek. Biaya kuliah bagi mahasiswa internasional di Inggris dan Australia termasuk yang termahal di dunia. Negara-negara termahal lainnya di antaranya ada Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru.

Sah-sah saja sebenarnya. Ada uang, ada barang — idealnya. Saya menikmati sistem pendidikan dengan fasilitas mentereng yang meng-upgrade pola pikir saya dalam menghadapi masalah. Tapi sayangnya, kemampuan berbahasa Inggris dan bergaul saya di tingkat global jadi mentok akibat komposisi mahasiswa seperti di atas.

Jangan salah, setelah saya tanya-tanya beberapa dari teman sekelas saya itu, mereka juga sama kagetnya, kok, melihat komposisi seperti itu. Mereka juga jadi sulit berkembang.

Beberapa waktu kemudian, saya mendapati sebuah video tentang situasi serupa yang juga terjadi di Australia. Sejumlah kampus di sana memiliki proporsi mahasiswa internasional dominan dari negara tertentu seperti Cina dan India. Lebih parah lagi, video itu juga menyinggung standar beberapa kampus yang diduga ‘diturunkan’ demi menerima mahasiswa internasional sebanyak-banyaknya.

Contoh maraknya adalah memberikan ‘kelonggaran’ untuk menerima mahasiswa asing yang kemampuan bahasa Inggrisnya di bawah standar. Ini vital ya. Demi bisa menyampaikan gagasan dan argumen dengan baik sebagai hasil dari berpola pikir kritis (“critical thinking”) dan berdasar yang diharapkan di sana, kemampuan berbahasa Inggris calon mahasiswa harus memadai.

https://www.youtube.com/watch?v=Sm6lWJc8KmE

Baca judulnya. Mahasiswa internasional disebut sebagai “cash cows.” Sapi perah. Diperah koceknya.

Di video itu, tampak kekecewaan disampaikan tidak hanya oleh mahasiswa internasional (atas kurangnya keragaman di kelas), tapi juga oleh mahasiswa Australia sendiri (bahkan ada yang memilih drop out) dan beberapa dosen universitas di sana.

Berbicara lebih luas lagi, keberadaan mahasiswa internasional ini tidak hanya dinikmati oleh pihak universitas. Selama masa studi di sana, mereka pasti menghabiskan uang juga untuk biaya akomodasi, makan, belanja baju, wisata, dan seterusnya. Mereka sudah turut menggerakkan perekonomian setempat.

Setelah masa studi selesai, apakah mahasiswa internasional berpeluang besar mendapatkan pekerjaan di sana?nggak juga. Secara umum, ketika di sebuah negara maju itu masih ada warganya yang menganggur, mengapa mereka mau repot-repot merekrut mahasiswa internasional untuk kerja yang prosesnya bisa lebih rumit?

Ya bisa saja sih. Apalagi kalau mau dibayar jauh di bawah standar ya? — yang mana ini konsekuensinya bisa kemana-mana dan belum tentu bagus.

Jadi, mau disengaja disusun seperti itu atau tidak, sekian proses yang dilalui mahasiswa internasional di negara seperti Inggris, Australia, dan sebangsanya sungguh menguntungkan negara-negara itu.

Peringkat universitas yang bagus menarik minat mahasiswa internasional. Mereka harus bayar mahal untuk kuliah dan tinggal di sana. Setelah lulus, cari kerjanya sulit. Untuk tugas akhir, tak jarang mereka melakukan riset yang berkaitan dengan negara asalnya. Kampus-kampus itu pun jadi mengakumulasi wawasan tentang negara-negara mereka. Hasilnya, kampus-kampus itu tetap lebih unggul.

Jadinya, hubungan antara pihak universitas dengan mahasiswanya sudah semakin seperti antara korporasi besar masa kini dengan pelanggannya — hubungan bisnis.

Sebaliknya, pemerintah negara seperti Jerman, Perancis, dan sejumlah negara maju lainnya banyak mensubsidi kampus-kampus mereka, khususnya kampus publik (negeri). Selain biaya kuliah jadi jauh lebih murah, mereka pun tidak terdorong menurunkan standar dan kualitas saat menerima mahasiswa baru.

Sebagai ilustrasi, biaya kuliah per tahun di UoL Inggris untuk program master full-time tahun akademik 2023/2024 adalah (mulai/berkisar) GBP 25000 per tahun (472 juta rupiah). Di Jerman, contohnya di Heidelberg University, mahasiswa internasional dikenakan biaya EUR 1500 per semester atau EUR 3000 per tahun (49 juta rupiah). Jauh banget, kan?

Tapi, perlu diketahui bahwa program master di Inggris biasanya hanya berlangsung satu tahun, sedangkan di Jerman umumnya berlangsung dua tahun.

Dari sekian penjabaran ini, saya tidak mengatakan kalau universitas di Inggris, Australia, dan lainnya yang mahal itu mutunya pasti/patut diragukan. Yang mau saya katakan adalah, seandainya skema di atas itu benar terjadi, kalian sebagai mahasiswa lah yang akan rugi.

Berarti, kalau diterima di banyak kampus di negara seperti Inggris atau Australia, gimana tuh?

Kalau program studinya sesuai dengan yang diminati, ya nggak ada salahnya memantapkan diri menempuh salah satunya. Tapi, manfaatkan waktumu di sana yang terbatas itu seoptimal mungkin, baik di kampus maupun di luar kampus. Ini mindset yang perlu dimiliki sejak sebelum berangkat.

Pergi kuliah ke LN itu tidak hanya tentang akademis, tapi jauh lebih luas. Selain itu, bagi saya, S2 saya di LN dulu itu ibarat solo traveling di negeri antah berantah dan dalam periode lama. Pengalaman dan keahlian yang saya peroleh dari solo traveling sebelumnya ternyata sangat berguna sekali di sana.

Dari awal, kamu lah yang menyusun pilihan dan rencana sendiri. Seandainya realitanya jauh dari harapan dan kamu kecewa, ya kamu juga yang harus menyusun plan B, plan C-nya sendiri, on the spot. Pokoknya, gimana caranya rasa kecewamu itu terobati. Studi ke LN itu keputusan besar dengan biaya investasi (dan mungkin juga pengorbanan) yang besar pula. Sekalinya kecewa, bisa kecewa berat itu.

Kalau pergaulan di kampusmu itu mentok, artinya kamu harus cari komunitas lain — selain komunitas mahasiswa Indonesia. Kamu juga harus coba segala cara halal agar bisa berhasil secara akademis. Yang ingin kerja part-time, silakan. Di luar itu, coba eksplorasi berbagai hal. Ada banyak pengalaman baru di luar sana yang bisa kamu lihat dan rasakan, yang berbeda jauh dengan di tanah air. Kapan lagi?

Yang memang ke sana dengan tujuan akhir cari kerja full-time, silakan direncanakan dengan matang.

Ingat, hubunganmu dengan kampusmu dan negara tujuanmu itu tadi adalah hubungan bisnis. Jadi, kamu harus mengambil banyak nilai tambah dan manfaat dari transaksimu dengan mereka. Ini supaya paling tidak, secara psikologis, transaksimu itu impas.

Dulu saya menemukan tipikal mahasiswa internasional yang cenderung hanya berorientasi akademis ketika di LN. Ketika kegiatan studi yang ditempuh secara riilnya tidak sesuai harapan, mereka stuck, lalu seperti tidak bersemangat untuk menjajal hal-hal yang lain. Mereka jadi nggak betah selama di LN. Mau dia ke sana atas beasiswa atau biaya sendiri, bagi saya, itu transaksi yang merugikan. It’s a bad deal.

UoL sejak beberapa tahun terakhir sudah membuka kampus cabang di Cina, kerjasama dengan salah satu universitas setempat. Jadi mudah-mudahan, mahasiswa-mahasiswa internasional yang lebih baru dari saya yang berkampus langsung di Liverpool sudah bisa mendapatkan pengalaman studi yang lebih lengkap dari saya dulu ya.

Referensi:

ABC News Australia: Emails reveal academics’ despair over struggling international students at Murdoch University

Here are ten of the cheapest countries for university students

University of Liverpool – Digital Marketing and Analytics MSc

Heidelberg University – Tuition Fees for International Students