|

Rasanya Tinggal Berhadapan dengan Tembok Benteng Baru Keraton Jogja / Babak Baru Angkringan Sartini

Tulisan ini telah disunting dan dimuat di Mojok.co

Sebelum dan sesudah restorasi.

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya yang berjudul, “Konflik Batin yang Saya Rasakan Saat Tinggal di Dalam Benteng Keraton Yogyakarta” serta “Kisah Mengharukan Angkringan Orang Klaten yang Kena Gusur Tembok Keraton Jogja.”

Setelah 7 bulan berlalu, proyek pembangunan tembok benteng Keraton Yogyakarta di depan rumah kami kini telah selesai, persis sebelum bulan Ramadhan.

Sayangnya, Ramadhan tahun ini jadi terasa berbeda sekali daripada tahun-tahun sebelumnya.

Ramadhan tahun-tahun lalu begitu meriah. Banyak interaksi di sepanjang jalan, banyak anak kecil bermain, lalu menjelang sahur ada rombongan pemuda yang keliling membangunkan kami. Kini berubah jauh. Begitu sepi, jarang sekali terlihat tanda-tanda kehidupan di sepanjang jalan. Kendaraan yang sesekali lewat pun sering melaju kencang karena polisi tidur yang semula ada, hancur dilalui alat berat saat proses pembangunan tembok dulu.

Saya selalu ingat perayaan Idul Adha 2023 yang lalu. Sehari setelah hari raya kami masih bareng-bareng melakukan penyembelihan di lapangan di area belakang rumah. Suasana penuh kegembiraan terlihat seperti biasa. Itu adalah momen terakhir kami berkumpul ramai-ramai bersama. Hari Senin di minggu depannya, suasana berubah total. Hari itu adalah tenggat waktu di mana mereka yang tinggal di sepanjang jalan, di hadapan rumah saya, harus sudah pindah.

Hari itu heboh sepanjang jalan. Orang-orang pada mengemas perabotan, pakaian, dan barang-barang milik mereka serta mempreteli bagian-bagian rumah mereka yang bisa diangkut. Sementara itu, mobil-mobil pickup stand-by menunggu.

Begitu malam tiba, mereka pergi satu-persatu keluarga, beriringan dengan sepeda motor, sembari pamit kepada kami yang tersisa di sini.

Selama beberapa minggu setelahnya, rumah-rumah di hadapan kami berubah gelap, sepi, hancur sebagian, menunggu untuk diratakan dengan alat berat. Dan ketika kami menyaksikan rumah-rumah itu diratakan dengan alat berat di depan mata, rasanya itu….aduh.

Kok sedih ya. Seperti mimpi buruk jadi nyata. Sebuah peristiwa yang seumur hidup saya tidak pernah terpikirkan untuk terjadi. Seperti ada luka baru di batin. Lingkungan tempat tinggal yang sebelumnya hidup dan berwarna, kini berubah drastis, sekarat karena jumlah warga yang pindah di sepanjang jalan jauh lebih banyak daripada kami yang tersisa.

Lingkungan dan kota yang dulu saya idam-idamkan sekali untuk tinggali, kini seakan mengharapkan saya untuk ikut pergi. Saya mulai bertanya-tanya apakah keputusan saya dulu untuk kembali tinggal di Jogja adalah keputusan yang salah.

Tidak hanya semata karena ditinggal pindah banyak tetangga, tapi juga karena ini, bagi saya, seakan melambangkan perubahan sikap para penguasa di sini terhadap warganya. Esok, di kemudian hari, entah akan ada peristiwa apa lagi. Mereka yang tinggal di area sini, saya yakin sudah mendengar beragam rumornya. Meskipun status kepemilikan tanah kami itu SHM, kini, rasanya tinggal di sini itu benar-benar hanya sekadar menumpang di lahan milik orang lain. Seakan menunggu giliran untuk disuruh pindah (apa justru ini lebih baik buat saya?).

Ya, sebagai warga kelas teri di sebuah monarki, mau bilang apa.

Sekilas, tinggal berhadapan dengan tembok tinggi kokoh putih sepanjang jalan rasanya kok sesak. Tetap bisa pergi kemana-mana, tapi rasanya seperti dikurung.

Akan ada yang berpendapat bahwa yang saya tulis ini berlebihan. Ya silakan. Mungkin sebagian orang bisa tenang-tenang saja, di kota manapun mereka tinggal, rasanya biasa saja. Yang penting bisa hidup, berkeluarga, dan bekerja di situ. Gitu saja kok repot.

Saya kesulitan untuk beroperasi seperti itu. Sebisa mungkin, perlu ada ikatan emosional dan kesenangan tersendiri di manapun kota yang saya tinggali, supaya betah dan punya rasa bangga akan kota itu. Ya namanya juga rumah. Masa sih nggak ada ikatan emosional?

Saya pun paham yang terjadi pada saya (dan kami) ini bukan apa-apa dibandingkan mereka yang saat ini mengalami peristiwa atau bencana yang jauh lebih berat. Meskipun demikian, ketika satu peristiwa buruk itu terjadi, saya berharap akan selalu ada ‘penjelasan’ – versi saya sendiri – yang masuk akal baik di pikiran maupun batin. Intinya, how do I make sense of this tragedy? – bagaimana saya harus menalarkan peristiwa ini. Apa hikmah yang bisa diambil, dan seterusnya.

Dengan adanya penjelasan itu, mudah-mudahan, saya akan bisa move on lebih cepat, bisa merespon dengan lebih tepat, semua demi kebaikan saya sendiri.

Itu adalah satu life-skill yang saya mulai peroleh sejak usia 25 dulu.

Sayangnya, hingga saat ini saya masih bergelut dengan sekian kemungkinan penjelasan dari peristiwa ini.

Karena juga tergusur, angkringan Sartini sudah sejak September lalu berjualan di halaman rumah saya. Awalnya, Mbak Sar dan Mas Jum berniat sementara saja berjualan di sini. Mereka ingin menambah pelanggan baru yakni para pekerja proyek tembok benteng. Di sisi saya (dan ibu), kami berharap dengan mereka berjualan di sini, suasana sepanjang jalan bisa menjadi sedikit lebih hidup, khususnya di malam hari.

Setelah dirembug, akhirnya angkringan Sartini akan terus berjualan di halaman saya, geser sedikit ke tengah setelah lebaran Idul Fitri ini. Tempatnya pun kita dirikan lebih bagus.

Ini agak-agak taruhan, sebenarnya. Dengan pindahnya sekian warga, mereka sebenarnya sudah kehilangan banyak pelanggan. Ditutupnya gang sempit jalan tembus ke Jalan Katamso pun mengakibatkan pelanggan yang kalau dulu mau ngangkring tinggal berjalan kaki, kini harus rela naik motor dan memutar lebih jauh. Harapannya, mereka bisa merasa lebih worth it untuk tetap ngangkring di sini karena tempatnya kini lebih bagus.

Kita juga sedang memikirkan gimana caranya ada aktivitas atau event yang bisa mengundang atau melibatkan banyak orang untuk turut mampir ngangkring di sini. Yang saya amati belakangan, mulai banyak orang bersepeda atau joging menyusuri tembok benteng ini. Apa bisa ya angkringan ini disertakan dalam rute mereka untuk mampir istirahat?

Ini bukan semata-mata agar dagangan mereka tetap laku. Tapi juga, kita (saya) juga butuh kok melihat ada interaksi dan tanda-tanda kehidupan di sepanjang jalan ini. Supaya nggak terbunuh sepi kalau kata Slank jaman dulu. Supaya tetap merasa aman dan tenteram.

Ya, mudah-mudahan bisa awet di sini.

Dulu saya pernah tinggal dan bekerja di Jakarta Selatan selama 6 tahun. Alhamdulillah, saya betah sekali tinggal di sana. Jarang pulang ke Jogja dan nggak terlalu sering telepon orang tua. Seperti impian anak rantau untuk ‘menaklukan’ ibukota, saya menikmati sekali menjalani mimpi itu. Ini terlepas dari beban pekerjaan yang suka nggak rasional khususnya di 3 tahun pertama, dan sempat sakit lama.

Meskipun ada masa-masanya saya pulang kerja naik motor kena macet parah, merasakan antrian penumpang di halte Transjakarta yang panjang dan gerah luar biasa, menjalani ritme hidup cepat dan berinteraksi dengan orang-orang yang gaya komunikasinya tidak sehalus orang Jogja, lagi-lagi saya tekankan, saya menikmatinya. Saya bersyukur sekali dengan pengalaman-pengalaman hidup selama di Jakarta.

Walaupun begitu, entah kenapa ya, saya tidak pernah merasa Jakarta adalah ‘rumah’. Ia lebih mirip sebuah fase yang harus dilalui dan suatu saat harus berhenti. Berbeda dengan mayoritas teman-teman saya, nggak pernah terlintas di benak saya untuk mencari dan mencicil rumah di sana – bahkan untuk tujuan investasi sekalipun.

Mungkin ada ya, sekian alasan praktikalnya: belum tentu besok-besok betah dengan macetnya, kemana-mana jauh dan mahal, banyak kejahatan, dan lain-lainnya. Namun demikian, kalau orang sudah cinta sesuatu, pasti ia akan rela melalui halangan apapun untuk meraihnya. Dari sini, saya bisa menyimpulkan bahwa ikatan emosional saya dan Jakarta saat itu tidak cukup kuat untuk merasakan ‘rumah’ di sini.

Dengan nalar serupa, makin kesini saya makin berpikir kalau ikatan emosional saya dengan Jogja mungkin sebenarnya juga hanyalah sebuah fase yang suatu saat harus berhenti. Artinya, saya perlu mulai mencari tempat atau bahkan kota lain untuk saya tinggali berikutnya.

Entahlah.