|

Pilih Mana: Jadi Lulusan SMA & Kuliah Lalu Kerja Jadi PNS, atau Jadi Lulusan SMK Tapi Kerja di LN?

Tulisan ini telah disunting dan dimuat di Mojok.co

Photo by Tris Truong on Pexels

Di era 90 sampai 2000-an, berita tentang TKI apalagi TKW kerap identik dengan perlakuan keji dari majikan. Dikunci di kamar, dibentak, disiram air panas, disetrika, dan sederet lainnya. Citra tentang TKI & TKW di mata saya, saat itu, kok pedih sekali. Belakangan, berkat media sosial, kita paham kalau kabar semacam ini hanya secuil dari situasi sebenarnya. Sebaliknya, dengan berbagai kisah dan pengalaman yang dibagi, kini kita malah bisa jadi iri dengan mereka yang setelah sekolah atau kursusnya bisa kerja ke LN, memperkaya tabungan dan pengalaman hidup.

Nyambi jadi English speaking partner, beberapa kali saya dapat siswa/partner yang kerja di LN, atau sedang proses untuk ke sana. Atau nggak perlu jauh-jauh deh, anak penjual angkringan di rumah saya pun akhir bulan ini akan berangkat ke Jepang. Lulusan SMK, ia sudah di-training dan diterima kerja di sebuah perusahaan makanan di sana.

Terlepas dari perlakuan keji terhadap beberapa TKI/TKW tadi, ada banyak cerita positif dari mereka yang, buat saya, mengubah persepsi tidak hanya tentang kehidupan TKI di LN, tapi juga terkait pilihan pendidikan pasca lulus SMP.

Dulu saat hendak lulus SMP, tidak pernah terbersit di benak saya tentang kemungkinan lanjut sekolah di SMK. Di keluarga saya pun tidak pernah ada obrolan tentang ini. Kalau ngomong jujur, secara tidak langsung, dan tanpa bermaksud menyinggung siapapun, pola pikir kami berkata bahwa alasan orang memilih untuk lanjut ke SMK itu umumnya karena dinilai kurang mampu berkompetisi secara akademis di SMA. Makanya mereka memilih untuk melatih keahlian. Untuk masuk ke SMA perlu kemampuan akademis yang, nantinya, dipakai untuk lanjut ke universitas. Selalu orientasi kami adalah kuliah, dan pendidikan menengah atas yang dinilai mampu untuk mengasah kemampuan akademis untuk lulus seleksinya adalah SMA, bukan SMK.

Baru-baru ini, saya baca postingan ramai seseorang di Threads (mungkin di X/Twitter ada juga) yang bersikeras kalau kelak anaknya sudah besar, ia hanya mau anaknya itu kuliah di UI, ITB, atau Prasetiya Mulia kalau tidak salah ingat. Ia menilai hanya lulusan kampus-kampus itulah yang berkualitas dan karirnya cemerlang di perusahaan.

Ya, sah-sah saja. Tapi dengan pencerahan yang saya dapatkan ini, semakin kemari, dalam rangka membangun prospek kerja di masa depan secara umum, mau lanjut kuliah termasuk di universitas favorit sekalipun semakin ada elemen overrated-nya.

Pertama, jalur penerimaannya makin banyak. Bukan hanya jalur atau program S1 reguler, tapi ada juga internasional atau mungkin yang lain. Ada persepsi yang melekat di sebagian orang bahwa mereka yang masuknya tidak melalui jalur reguler, pasti kualitas mahasiswanya tidak sebaik yang reguler. Entah itu benar atau tidak, yang jelas jalur ini ada karena mahasiswa harus memberikan kontribusi lain, misalnya uang masuk atau UKT yang lebih mahal.

Atau contoh lainnya, almamater S2 saya dulu di Inggris. Karena laku peminat dari Cina, akhirnya mereka jalin kerjasama dengan salah satu universitas di Cina untuk buka cabang di sana. Kendali mutunya saya nggak ngerti ya. Bisa bagus bisa tidak. Tapi yang jelas, makin kemari, pihak universitas itu makin butuh duit, dan mereka tahu kalau cap kelulusan dari mereka itu dihargai lebih oleh pasar dan calon mahasiswa. Makanya jalur-jalur lain tadi dibuka, terlepas dari apakah kualitas lulusannya nanti bagus atau tidak.

Perkara lulusan program reguler vs bukan, universitas favorit vs bukan ini saya ada pengalaman pribadi saat dulu kerja di Jakarta. Kantor saya cukup prestisius, dengan mayoritas pekerjanya adalah sarjana akuntansi. Saya lihat banyak diantaranya yang lulusan UI (baik S1 reguler maupun ekstensi), Universitas Tarumanegara, Universitas Parahiyangan karirnya bagus-bagus. Kami yang alumni UGM kalah bersaing karena nggak kuat dengan tekanan kerjanya, dan memilih cari kerja jadi PNS atau di BUMN. Jadi, bagi saya, mau lulusan kampus favorit pun nggak sepenuhnya menjamin karirmu bakalan oke di dunia kerja.

Kedua, biaya kuliah universitas favorit khususnya yang negeri itu makin mahal. Ya kan?bahkan katanya bisa nyaingin biaya kuliah di universitas swasta.

Ketiga, fenomena yang udah kejadian dari dulu: kuliahnya jurusan apa, besok keterima kerjanya di bagian atau perusahaan apa. Misal: sarjana pertanian kerjanya di bank. Sia-sia dong ilmu kuliah yang susah-susah dipelajari 4 tahun.

Terakhir, banyak dari ilmu kuliah itu sekarang bisa diperoleh gratis di platform seperti YouTube, dll. Ada juga platform yang berbayar tapi tentunya tidak semahal uang kuliah seperti Coursera, misalnya.

Belakangan, saya ngobrol dengan beberapa teman tentang SMA vs SMK ini. Rupanya pengalaman mereka dulu serupa, dan persepsi mereka sekarang juga mulai berubah seperti saya. Mau pilih sekolah di SMA atau SMK itu sama validnya untuk membangun karir di masa depan. Seandainya ada anak, keponakan, saudara, atau kenalan yang performa akademisnya agak kesulitan, mungkin memaksakan ia untuk lanjut ke SMA lalu kuliah bukan pilihan yang bijak.

Bahkan, kalau berorientasi ingin ke LN, bisa jadi peluangmu untuk merealisasikannya itu akan lebih besar kalau sekolah di SMK atau pendidikan kejuruan lainnya. Di banyak industri, jumlah kebutuhan akan pekerja terampil di lapangan itu lebih banyak daripada kebutuhan akan pekerja di bagian administrasi/kantornya. Makin kemari, lulusan IT atau sekolah bisnis itu sudah terlalu banyak & prospek kerjanya mulai oversaturated. Mending ambil sekolah kejuruan di pertanian, misalnya, lalu cari kerja jadi petani di LN. Ambil pendidikan kejuruan, lalu belajar/kursus bahasa asing. Bagus itu.

Apalagi kalau ngomongin negara maju. Banyak dari mereka mulai kekurangan penduduk, sementara orang-orang muda yang tersisa enggan memilih kerja di lapangan. Mereka butuh pekerja pendatang supaya kegiatan dan perekonomian tetap berjalan.

Memang, kalau balik lagi ke lulusan universitas favorit, jaringan alumninya di dunia kerja itu kuat, tapi ya itu, banyak mentok kerja di jadi PNS atau di BUMN. Sebaliknya, SMK juga nggak kalah. Biasanya mereka ada kerjasama dengan perusahaan-perusahaan asing untuk penyaluran lulusannya. Iya, bisa jadi ada kuota. Tapi sama juga, meskipun kamu lulusan universitas ternama, kerja di perusahaan apapun di manapun juga ada kuotanya kan?

Mungkin ada komentar juga: lho kalau jadi pekerja lapangan, meskipun di LN, kan standar gajinya (meskipun kalau dirupiahin itu besar) masih kalah dengan standar gaji pekerja kantornya?lalu biaya hidup di sana kan pasti mahal ya. Belum lagi, untuk bisa diterima kerjanya, ada biaya pendaftaran/penyalurannya kan.

Yaa, kalau masih kurang duitnya, kamu kerja di LN sekalian bikin konten saja di YouTube, siapa tahu bisa dapet tambahan dari situ.

Btw, kamu pilih nonton konten mana?keseharian kerja jadi PNS di Jogja (misalnya), atau keseharian kerja jadi petani di Jepang?

Saya sih lebih milih yang kedua ya, meskipun agak iri-iri gimana, gitu.

Ini saya bukan PNS ya.