Ikrar, Relawan ISIS, Sherlock dan Intuisi
Dulu ketika menempuh tahun pertama kuliah S1 di Jogja, saya berkenalan dengan seorang teman sefakultas tapi beda jurusan. Dia berasal dari Jakarta.
Waktu itu, saya senang ngobrol sama dia khususnya tentang keyakinan.
Supaya lebih jelas, saya kasih latar belakang sedikit.
Saya berasal bukan dari keluarga yang religius. Terlepas dari itu, saya cenderung pemikir — dan menginginkan kebebasan. Dari kecil, ada sekian pertanyaan tentang keyakinan yang kerap mengganggu pikiran saya. Tapi sayangnya, saya tidak tahu harus bertanya ke siapa tanpa merasa digurui, dianggap aneh, ditertawakan, atau diatur-atur.
Contoh pertanyaannya misalnya begini: saya Islam. Seandainya saya memiliki teman beragama Nasrani, kelak di akhirat apakah benar ia tidak akan selamat? — dan sekian lainnya yang, saat ini, saya telah putuskan untuk….udah lah pasrah aja. Sampai kapan pun saya hidup, saya tidak akan pernah menemukan (atau merasa tenteram dengan) jawabannya.
Kembali ke teman kuliah saya tadi. Saya merasa nyaman dan tenteram mengetahui bahwa ada orang dengan wawasan agama yang lebih baik dari saya (pikir saya waktu itu) bisa memaklumi pola pikir saya.
Setelah beberapa kali obrolan, di suatu waktu dia mengajak saya main ke kontrakannya. Saya sudah lupa persisnya di mana, tapi yang jelas waktu itu agak jauh dari ring road utara.
Di sana, kami masih ngobrol tentang keyakinan. Tapi kali itu, dia mengatakan sesuatu yang membuat saya benar-benar bingung: untuk memeluk Islam secara kaffah, dia bilang saya harus mengucapkan ikrar.
Sekilas, saya pikir ikrar yang dia maksud itu 2 kalimat syahadat.
Lalu dia bilang ikrar itu harus saya ucapkan di hadapan pemimpin (semacam kyai) dan ada saksi, di situ juga.
Saya semakin bingung. Guru agama saya dari SD hingga SMA tidak pernah mengatakan ini, kecuali bila saya sebelumnya memeluk agama lain.
Apa iya guru-guru saya itu salah?
Dia bertanya: apakah saya sudah siap untuk mengucapkan ikrar?
Si bapak kyai sudah ada di ruangan bersama kami, dan di luar ruangan saya melihat seorang pemuda seperti sedang menunggu sesuatu (saya menduga ia saksi).
Saya mengulur waktu sebentar, dan di pikiran saya hanya ada satu pertanyaan yang begitu kuat: gimana caranya keluar dari sini?
Karena, apapun itu keyakinan mereka, mau itu benar atau salah, yang jelas saya berada di markas mereka.
Akhirnya saya tahu harus jawab apa. Saya bilang saya harus tanya dulu ke orang tua saya.
Saya akhirnya bisa pulang ke rumah dengan baik-baik saja.
Selepas pertemuan itu, frekuensi saya berbicara dengan teman saya itu jadi semakin berkurang.
———
Lompat ke tahun 2015 ketika saya menempuh studi S2 di Inggris, saya mendengar berita-berita di mana ada sejumlah warga negara Inggris (baik kulit putih atau mixed race) yang ketahuan pergi ke Suriah untuk bergabung menjadi anggota ISIS, atau sebaliknya, bergabung dengan kelompok yang melawan ISIS (detail konfliknya dan siapa saja yang terlibat gak perlu dibahas — njelimet).
Saya mendengar nama-nama atau julukan seperti Jihadi John (member dari The Beatles), dan Jihadi Jack.
Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan kenapa orang-orang bahkan dari Eropa dan Amerika mau bergabung menjadi pejuang ISIS (atau musuhnya). Tapi katanya, itu bukan karena brainwash atau doktrinasi.
Sebagian bergabung karena mengira mereka akan menjalani kehidupan yang lebih baik (khususnya bagi muslim yang merasakan ketidakadilan atau teralienasi di negara asalnya), ada yang karena solidaritas atau mencari petualangan, ada juga yang mencari makna hidup atau berada di fase ngambang dalam hidupnya (lalu karena judgement yang buruk, akhirnya gegabah mengambil keputusan).
Ambil contoh, Jack Letts (Jihadi Jack). Melansir BBC, ia menjadi mualaf di tahun 2012 di usia 16 tahun. Dua tahun setelah itu, ia drop-out dari program A-levels (persiapan kuliah) di sebuah sekolah di kota Oxford lalu pergi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS.
Ia mengatakan bahwa sebelum kepergiannya itu, hidupnya baik-baik saja. Hubungan dengan orang tuanya pun harmonis. Tapi ia galau: ia berpikir bahwa sebagai muslim, sudah menjadi tugasnya untuk pergi turut membela “Islamic State.” Ia mengira bahwa dengan bergabung dengan ISIS, ia akan menjalani kehidupan yang lebih baik sebagai muslim.
Itu ditambah dengan karakter bangsa Eropa yang pada dasarnya memang gemar mengeksplorasi sejak zaman dulu demi menjajah.
Mungkin saya berpikir terlalu jauh, tapi saat mendengar berita-berita itu, saya langsung ingat pengalaman di tahun pertama kuliah S1 tadi.
Saya juga sempat cerita pengalaman itu ke seorang sesama mahasiswa Indonesia yang, rupanya, ia (atau saudaranya, saya lupa) pernah mengalami hal serupa bahkan lebih parah.
Jika diingat lagi saat pengalaman itu terjadi, saat itu wawasan saya tentang aliran agama ini dan itu sungguh ala kadarnya. Internet juga masih terbatas. Ditambah dengan berada di lingkungan universitas dengan latar belakang mahasiswa yang beragam, sadar atau tidak, nilai-nilai yang saya anut juga belum matang. Ia siap untuk diisi oleh pola pikir atau paham apapun.
Tapi saya bersyukur karena ketika ditanya tentang kesiapan untuk mengucap ikrar itu, alam bawah sadar saya bereaksi begitu kuat untuk menolak. Seperti ada yang salah. Entah apa itu istilahnya yang tepat: insting, firasat, intuisi, atau hanya sekadar rasa takut.
———
Ada satu adegan film seri Sherlock S4E1 – The Six Thatchers (2017) di mana Sherlock berkata seperti ini:
“Intuitions are not to be ignored, John. They represent data processed too fast for the conscious mind to comprehend.”
Terjemahan: intuisi itu ada bukan untuk dicuekin, Bambang. Ia melambangkan sejumlah data yang diproses terlalu cepat sehingga belum bisa dipahami oleh pikiran alam sadar.
Kamu merasa ada sesuatu yang salah. Tapi ketika kamu harus menjelaskan proses berpikir yang kamu lakukan sehingga mencapai kesimpulan bahwa itu salah, kamu tidak bisa menjawab.
Ini bukan berarti intuisi itu selalu mutlak benar ya.
Sebuah pengambilan keputusan yang didasari dengan sederet data yang mendukung saja bisa keliru, apalagi yang didasari dengan tanpa (atau sedikit sekali) data.
Meski begitu, selayaknya seorang consulting detective yang terbiasa memecahkan kasus seperti Sherlock, atau seorang atlet olah raga atau musisi yang konsisten berlatih sekian lama, secara tidak langsung, “data” itu akan terkumpul dengan sendirinya di pikiran bawah sadar manusia.
Jadi, peluang intuisi untuk bisa mendukung pengambilan keputusan yang tepat bisa lebih besar.
———
Meskipun sempat menikah dan punya anak selama bergabung dengan ISIS, Jack Letts akhirnya keluar di tahun 2017. Satu alasan kuat kenapa ia memilih keluar adalah karena ia kaget menemukan bahwa di lapangan, ternyata ISIS juga membunuh sesama muslim.
Ada satu riset yang mengungkap berbagai alasan mengapa banyak orang dari berbagai negara bergabung dengan ISIS — langsung dari penuturan mantan anggota-anggotanya. Baca di sini.