Mengenal Abdullah Quilliam, Mualaf Pertama di Inggris

Tahun 2015 lalu, saya hendak salat duhur di musala di dalam perpustakaan kampus saya di Liverpool.
Waktu itu hanya ada saya dan seorang lelaki lainnya yang dari penampakan fisiknya, (dengan pedenya) saya berasumsi kalau ia berasal dari Timur Tengah yang, oleh karena ini, saya berkeras meminta ia menjadi imam.
Sebenarnya di awal dia sudah ngomong, “Udah, mending kamu aja, biar nanti….(saya kurang dengar dengan jelas dia ngomong apa di bagian akhir).”
Karena saya ngotot (sebenernya sih: merasa inferior kalau mesti ngimami dia), akhirnya dia nurut.
Sebenarnya, saya sedikit menangkap kesan kalau bersedianya dia itu seperti ‘oke, saya jadi imam, tapi tadi saya udah kasih warning ya.’ Tapi karena saya gak paham dia tadi ngomong apa, ya udah lah ikutin aja. Saya sih gak mikir aneh-aneh.
Akhirnya dia ngucap takbir. Tapi saya perhatiin, alih-alih bersedekap, setelah takbir itu posisi kedua tangannya langsung diturunin lagi seperti semula.
Saya bingung. Ini dia lagi siap-siap, salah niat, apa gimana?
Saya cuma nunggu sambil diam aja.
Gak lama kemudian, dia takbir lagi. Nah, kali ini saya kira sehabis takbir posisi tangannya bakalan sedekap kan. Tapi ternyata….dia langsung rukuk.
….oh sh*t! (kata batin saya).
Saya langsung belingsatan takbir lalu rukuk secepat kilat. Gak ngerti deh sah apa enggak.
Setelah selesai, saya ingin ulangi salat lagi sendirian, tapi kok dia gak kelar-kelar ya berdoanya. Ya udah lah moga-moga aja sah. Hiks..
Itu adalah salah satu momen yang membuka mata dan pikiran saya tentang keberagaman Islam di kota itu.
Saat itu, saya tinggal di sana dalam rangka studi S2. Dalam hal kehidupan beragama, yang saya tahu tentang Liverpool ketika sebelum tiba di sana ya seperti umumnya kota-kota besar di Inggris: multikultur dan multireligi.
Tapi tidak lama setelah tinggal di sana, saya menemukan satu fakta yang membuat saya bangga tentang kota yang saya pilih itu: mualaf dan masjid yang pertama kali berdiri di Inggris rupanya berasal dari (dan terletak di) Liverpool.
Perkenalkan, mualaf Inggris pertama: William Henry Quilliam — atau kemudian berganti nama menjadi Abdullah Quilliam.
_____
Lahir di tahun 1856, Quilliam berasal dari keluarga terpandang dan kalangan menengah ke atas.

Sebelum memeluk Islam, ia adalah seorang pengacara yang dihormati. Ia juga memiliki pengalaman sebagai penulis dan jurnalis.
Namun demikian, ia peka dengan berbagai isu sosial di masyarakat sejak masih muda.
Tidak hanya peka, ia turut aktif berkontribusi untuk menanganinya. Beberapa contohnya adalah aktif mengampanyekan anti minuman keras yang dianggap sebagai salah satu sumber masalah sosial (sebagai anggota Temperance Movement), dan juga anti perbudakan serta anti hukuman mati.
Bahkan, ia dikenal bersedia mengalokasikan sumber daya hukum dan ekonomi yang ia miliki untuk melacak para suami yang kabur dari rumah demi memastikan bahwa mereka tetap menafkahi anak-anak mereka.
Singkat kata, Quilliam adalah seorang SJW yang berjuang secara konkret.
Quilliam memutuskan untuk menjadi mualaf ketika berusia 31 tahun setelah sebuah perjalanan ke Maroko.
Sepanjang periode 1887-1932 (hingga meninggal), ia disebut telah meng-Islam-kan hingga 500 orang.
Tantangan utama yang ia hadapi dalam berdakwah di Inggris di masa itu adalah bagaimana mengoreksi persepsi negatif tentang agama Islam di sana yang dianggap barbar dan anti ilmu pengetahuan di tengah masyarakat yang ‘terbagi’ menjadi dua kelas karena ekstrimnya kesenjangan sosial dan ekonomi.
Lalu karena di masa itu Inggris memiliki negara-negara jajahan yang berpenduduk mayoritas muslim, persepsi negatif ini akan menajam apabila di negara-negara tersebut terjadi konflik.
Bagi saya, adanya persepsi bahwa Islam itu barbar lebih dikarenakan arogansi orang-orang barat yang merasa lebih superior daripada bangsa lain yang mereka jajah. Selain itu, bisa juga ada faktor culture shock serta berkembangnya berbagai rumor tentang Islam yang belum tentu benar.
Ingat, hingga sekarang pun agama ini masih sering disalahpahami.
Kemudian terkait kesenjangan sosial dan ekonomi, perekonomian Liverpool saat itu booming. Ini karena tingginya arus lalu lintas kapal yang singgah di pelabuhannya dari (dan ke) wilayah jajahan Inggris di seluruh dunia.
Angka populasinya pun meningkat drastis hampir 10 kali lipat sepanjang abad itu.
Embed from Getty Imageswindow.gie=window.gie||function(c){(gie.q=gie.q||[]).push(c)};gie(function(){gie.widgets.load({id:’N5Ro5sugQHdIDK2y-l5uCw’,sig:’5ske-M2lNS2klosFDGTnwmo2_ArMshyTQJs55ZQSTrQ=’,w:’494px’,h:’349px’,items:’1198032269′,caption: true ,tld:’com’,is360: false })});
Tapi rupanya, tingkat kemiskinan di kota-kota di Inggris termasuk Liverpool di masa itu justru relatif tinggi. Ada banyak faktor penyebabnya, tapi yang sering disebut adalah karena tingkat upah yang terlalu rendah.
Tidak meratanya distribusi hasil perekonomian ini mengakibatkan kesenjangan sosial yang terlihat kentara. Di satu sisi kota terlihat bangunan-bangunan megah, sementara area lainnya diisi pemukiman kumuh. Si kaya dan si miskin seolah tidak saling peduli atau membaur satu sama lain.
Nahasnya, kondisi ini berjalan paralel dengan tingginya kejahatan (dan juga kematian) serta permabukan.
Sebagai informasi, Liverpool saat itu memiliki reputasi sebagai ‘kota termabuk’ di Inggris.
Tentu saja, perilaku yang dicerminkan oleh reputasi ini kemudian memperparah tingkat kriminalitas dan kemiskinan yang sudah ada.
Dasar bangsa barbar.
Secara garis besar, paling tidak ada 5 metode yang Quilliam tempuh dalam menyebarkan Islam: (1) mendirikan komunitas muslim beserta masjid pertama dan base camp, (2) merilis surat kabar dan publikasi Islam, (3) kegiatan bernuansa edukasi dan intelektualitas, serta (4) networking dengan pemimpin dan umat muslim di negara-negara lain, (5) kegiatan amal, sosial dan aktivisme lainnya.
Ada beberapa yang dilakukan secara to the point, ada yang secara subtle (halus, samar, membaur dalam kondisi yang sudah ada).
Penjelasannya sebagai berikut:
(1) Quilliam mendirikan Liverpool Muslim Institute dan British Muslim Association di tahun 1887.
Awalnya bermarkas di Mount Vernon Street, tak lama kemudian pindah ke 8 Brougham Terrace di tahun 1889. Ini adalah lokasi Masjid Abdullah Quilliam berada sekarang.
Berdirinya base camp dan masjid ini seakan menghadirkan ‘rumah’ baru bagi para pekerja kapal muslim yang berasal dari negara-negara koloni Inggris yang singgah di Liverpool.
Komunitas ini mengalami beragam teror dan hate crime khususnya di tahun-tahun awal berdiri. Meskipun demikian, di lokasi inilah Quilliam melakukan beragam kegiatan Islamnya.
(2) Di tahun 1889-1890, Quilliam merilis dan mencetak total sebanyak 5000 lembar buku The Faith of Islam yang menceritakan nilai-nilai dasar Islam.
Kabarnya, Ratu Victoria (Ratu Inggris saat itu) cukup berempati terhadap perjuangan Quilliam dan umat muslim di Inggris serta kontribusi mereka ke masyarakat. Ia menunjukkan ketertarikannya dengan secara personal meminta beberapa kopi buku ini kepada Quilliam untuk ia dan anak-anaknya.
Selain itu, Quilliam menerbitkan surat kabar The Crescent yang terbit mingguan, dan jurnal The Islamic World yang terbit bulanan. Kedua surat kabar ini bahkan katanya disirkulasikan hingga menjangkau banyak negara di seluruh dunia. Tidak hanya negara mayoritas muslim saja, tapi juga negara seperti Australia, Kanada dan Selandia Baru.
Berbicara tentang hubungan Quilliam dengan pers, dalam pidatonya di Kairo tahun 1928, ia menceritakan satu pengalaman awalnya dalam berbicara di depan para jurnalis surat kabar setelah menjadi mualaf. Awalnya berbicara tentang topik yang lain, ia kemudian menyisipkan materi tentang nilai moral dan ajaran Islam dan Nabi Muhammad SAW.
Merasa heran dan penasaran, para jurnalis ini meminta izinnya untuk mencetak rangkuman materi ini dalam surat kabar mereka.
Quilliam menolak. Ia hanya mengizinkan materi itu untuk dicetak utuh. Ia paham kalau materi ini rentan untuk dibelokkan tujuannya.
Rupanya, karena ada beberapa pihak yang tidak senang, para jurnalis dan editor itu kemudian mencetak hanya rangkumannya saja.
Quilliam tidak terima. Ia mengancam akan mengambil tindakan hukum bila mereka kemudian tidak mencetak ulang materinya itu secara utuh. Takut dengan ancamannya, pihak surat kabar itu akhirnya melakukan cetak ulang sesuai kesepakatan di awal.
Hubungan Quilliam dengan pers naik turun tidak hanya sekali itu. Namun demikian, dinamika ini justru menambah publisitas Quilliam dalam menyebarkan Islam di Inggris.
(3) Satu kegiatan rutin yang populer Quilliam lakukan adalah mengadakan Sunday lecture, forum dimana ia memberikan kuliah (ceramah) tentang topik yang beragam.
Awalnya terdengar seperti kuliah biasa, tapi di situ Quilliam menyampaikan materi yang menjelaskan aspek ‘rasional’ Islam.
Acara ini menarik perhatian khususnya bagi mereka yang berpendidikan. Tak bisa dipungkiri, sosok Quilliam yang ‘sekelas’ dengan mereka serta memiliki reputasi yang bagus sebagai pengacara menimbulkan rasa penasaran mereka tentang mengapa ia memilih untuk menjadi mualaf.
Lalu karena terbuka untuk umum, acara ini ‘membaurkan’ mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas vs dan ke bawah. Ini secara tidak langsung mengedukasi publik bahwa bagi orang Islam, semua orang itu kedudukannya setara. Ibaratnya seperti: dalam salat jamaah siapa saja bisa jadi imam asal bacaannya bagus. Gak peduli profesinya apa, dan sebagainya.
….kalau setelah salat itu para jamaah lantas terpisah-pisah lagi bergaulnya berdasarkan kelas ekonomi maupun kelas lainnya, ya maap.
Perhatikan juga bahwa alih-alih Jumat yang merupakan ‘hari besar’ umat Islam setiap minggu kalender, acara ini berlangsung di hari Minggu.
(4) Peran Quilliam dan Liverpool Muslim Institute dalam menyebarkan Islam di Inggris terdengar hingga ke umat muslim di seluruh dunia.
Liverpool Muslim Institute juga pernah menerima donasi dari umat muslim dari negara-negara seperti Turki, Afghanistan, India dan lainnya.
Sepanjang periode ia berdakwah, Quilliam pun sempat dikirimi berbagai hadiah dari para pemimpin atau bangsawan muslim dari seluruh dunia.
Ia pun aktif melakukan perjalanan ke negara-negara Islam seperti Maroko dan Turki.
Di tahun 1893, ia mengeluarkan fatwa agar umat muslim tidak memerangi atau membunuh umat muslim lainnya meskipun sedang ‘bermusuhan’. Ini ia lakukan ketika Inggris pada waktu itu menguasai dan menerapkan politik pecah belah di Sudan.
Di tahun itu juga, Quilliam memperoleh gelar Alim dari Sultan Maroko. Kemudian di tahun 1894, ia memperoleh gelar The Caliph of Islam dari sultan kekaisaran Ottoman yaitu Sultan Abdul Hamid II.
(5) Selain merayakan kedua hari raya Islam dan Maulid Nabi setelah memeluk Islam, Quilliam memilih untuk tetap ‘merayakan’ hari Natal.
Ini ia lakukan bersama Liverpool Muslim Community dengan cara berbagi makanan gratis kepada ratusan anak-anak di Liverpool.
Kemudian di tahun 1896 ia mendirikan sekolah dan panti asuhan Medina Home demi memelihara anak-anak yang, karena berbagai alasan, tidak bisa diasuh orang tuanya.
_____
Itu hanya sedikit dari perjalanan ‘karir’ Quilliam sebagai pendakwah Islam. Tapi sampai sini udah ngerti ya, ia bukan sosok yang biasa-biasa saja.
Quilliam merupakan figur yang ‘ideal’ (kulit putih, warga asli, kaya dan dihormati) yang juga seorang aktivis yang peduli masalah sosial (sejak sebelum menjadi mualaf) yang semuanya ini mendongkrak popularitas dan perjuangan umat Islam serta memudahkan agama ini untuk bisa diterima oleh berbagai kalangan publik di Inggris.
Sebagai manusia biasa, ia mengerahkan semua sumber daya yang ia punya demi sebuah tujuan hidup yang bermakna. Tak bisa dipungkiri, saya cukup mengagumi orang ini.
Umat Islam sungguh diberkahi dengan ‘terpilihnya’ Quilliam sebagai pelopor penyebaran Islam di Inggris.
Ia meninggal di tahun 1932 di Woking, dekat London.
_____
Di bulan Ramadan tahun 2015 itu, saya sempat datang untuk iftar di Masjid Abdullah Quilliam. Saat itu proses renovasi masih belum selesai, tapi masjid tetap ramai.

Diantara para jamaah yang datang, saya melihat seorang bapak-bapak kulit putih berseragam polisi ikut duduk lesehan di karpet. Saya tidak tahu apakah dia muslim atau mualaf, sekadar ingin merasakan suasana iftar, atau (yang jeleknya nih) hadir dengan tujuan mengawasi kegiatan kami para muslim.
Tapi yang jelas, saya melihat dia bercakap-cakap dengan ramah dengan para jamaah lainnya, dan saya merasakan kedamaian.
_____
Selain beberapa referensi yang sudah ditautkan di atas, tulisan ini juga banyak mengambil referensi dari buku Islam in Victorian Britain: The Life and Times of Abdullah Quilliam