|

Para Pembersih Media Sosial yang Trauma, Supaya Kita Tidak

Tulisan ini telah disunting dan dimuat di Mojok.co

Photo by mikoto.raw Photographer on Pexels.

Ada segelintir manusia yang direkrut untuk menonton konten pornografi dan kekerasan di media sosial, setiap hari.

Sepanjang jam kerja, mereka diharuskan mengonsumsi ratusan video dan gambar porno, penyiksaan, pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri, dan sekian kekerasan lainnya yang dilakukan tidak hanya terhadap orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan binatang.

Mereka adalah content moderator, orang-orang yang dikontrak oleh platform media sosial seperti Facebook, YouTube, Twitter dan TikTok baik secara langsung maupun melalui perusahaan outsourcing. Tugas mereka adalah memfilter apakah konten unggahan pengguna itu — setelah dilaporkan pengguna yang lain — mengandung unsur yang melanggar ketentuan platform (misal: misinformasi, pornografi atau kekerasan). Bila melanggar, maka konten itu akan dihapus supaya tidak dikonsumsi pengguna umum seperti kita.

Di sebuah video dari Vice yang berjudul “The Horrors of Being a Facebook Moderator,” seorang pria menceritakan pengalaman buruknya saat dulu bekerja sebagai content moderator untuk Facebook.

https://www.youtube.com/watch?v=cHGbWn6iwHw
Mantan moderator Facebook menceritakan pengalaman buruk kerjanya di masa lalu.

Ia mengatakan bahwa meskipun syok di hari pertama kerja setelah disuguhi video jarak dekat seorang pria yang sedang ber….(sensor), seiring waktu ia mengalami desensitisasi. Batas toleransi emosinya terhadap konten pornografi dan kekerasan bertambah tinggi sehingga akhirnya ia tidak merasakan apa-apa ketika menontonnya.

Sementara itu, pikiran bawah sadarnya mengakumulasi trauma yang siap meletus kapan saja, serta kehilangan harapan akan kemanusiaan.

Jumlah content moderator diperkirakan mencapai puluhan ribu orang dan tersebar di seluruh dunia dengan Facebook dan TikTok memiliki paling tidak 15 ribu dan 10 ribu orang (cek daftar referensi di bawah).

Ini sekalian membenahi pandangan bahwa proses pemfilteran konten media sosial itu selama ini tidak dilakukan oleh artificial intelligence (AI). Sebaliknya, hasil kerja para moderator ini bisa dijadikan materi untuk melatih AI supaya kelak bisa mengambil alih peran mereka.

The Wall Street Journal menyebut profesi content moderator sebagai “The Worst Job in Technology.” Pekerjaan ini dalam beberapa tahun terakhir memang disorot media-media internasional dengan pemberitaan negatif, serta mengarah ke eksploitasi tenaga kerja (cek daftar referensi di bawah untuk beberapa contohnya). Bahkan di tahun 2018, dua orang Jerman membuat sebuah film dokumenter tentang profesi ini, berjudul “The Cleaners: The hidden world of content moderators.”

Media-media itu mengungkapkan sejumlah perlakuan buruk terhadap content moderator di Amerika Serikat, Portugal, Kenya, Kolombia, Filipina, Malaysia dan sejumlah negara lainnya. Dalam prosesnya, para moderator yang menjadi narasumber berisiko dituntut secara hukum karena saat direkrut, umumnya mereka harus menandatangani non-disclosure agreement (NDA) dengan pihak pemberi kerja.

Dari pengakuan para narasumber, jumlah konten yang diproses para moderator setiap harinya bisa mencapai 500 konten untuk Facebook, dan bahkan 900 konten untuk TikTok.

Masih mending kalau konten-konten itu hanya ‘sekadar’ mengandung misinformasi. Kalau isinya pornografi dan kekerasan semua gimana?

Karena melakukan pekerjaan yang risikonya begitu besar secara mental, sudah selayaknya mereka difasilitasi dengan konseling dan terapi yang memadai. Tapi realita di lapangan jauh di bawah harapan. Mereka begitu dikontrol dan ditekan dengan target produktivitas harian, diberikan waktu rehat yang sangat minim, dipersulit jika hendak meminta konseling, dan bahkan jumlah terapis profesional yang disediakan juga tidak mencukupi.

Kondisi psikologis orang-orang ini begitu terisolasi. Gaya bercanda di antara mereka cenderung gelap, diantaranya yakni bernuansa bunuh diri. Berkeluh kesah kepada keluarga pun mereka tidak bisa karena NDA yang sudah mereka tandatangani.

Akibatnya, banyak dari mereka yang mimpi buruk, mengalami gangguan kecemasan, depresi dan PTSD (post traumatic stress disorder). Bahkan salah satu narasumber film “The Cleaners” di Filipina dikabarkan melakukan bunuh diri karena merasa sudah tidak kuat.

Sebagian dari mereka juga mengaku bahwa saat hendak direkrut, deskripsi pekerjaan yang diberikan menyesatkan. Mereka seakan dijebak dengan diberitahu bahwa konten yang mengandung kekerasan itu porsinya hanya sedikit. Setelah syok menjalani hari-hari pertama kerja, barulah mereka sadar bahwa ini adalah rutinitas baru mereka sehari-hari.

Kembali ke video Vice tadi, pria itu juga menyebutkan satu rekaman yang memuat komentar dari Mark Zuckerberg selaku pihak manajemen Facebook terhadap kondisi psikologis para moderator yang trauma.

“That’s a little bit overdramatic,” kata Zuckerberg.

Facebook di 2020 lalu dikabarkan sepakat untuk memberikan kompensasi sebesar USD 52 juta kepada 11.250 content moderator yang mengalami PTSD. Bila kita bandingkan dengan laba bersih Facebook di 2020 yaitu USD 29 miliar (cek daftar referensi di bawah), maka USD 52 juta ini praktis porsinya hanyalah 0,18% — seperti receh.

Lebih jauh lagi, 11.250 moderator itu seluruhnya bekerja atau pernah bekerja untuk Facebook sejak 2015. Jadi, bisa dibilang uang USD 52 juta itu adalah kompensasi untuk periode selama kurang lebih 5 tahun.

Kiranya sudah jelas mengapa Mark Zuckerberg tidak peduli dengan kesehatan mental para pekerja level bawahnya.

Bagi sebagian moderator, bertahan di profesi ini mereka lakukan bukan hanya demi uang, tapi demi tujuan yang lebih mulia. Ketika menyaksikan konten kekerasan terhadap anak-anak, misalnya, mereka terbayang bahwa hal serupa bisa terjadi kepada anak-anak mereka. Dan seterusnya. Mereka tulus ingin mencegah konten semacam ini menyebar. Bagi mereka, menjadi content moderator ini ibarat menjalankan misi untuk menjaga keselamatan umat manusia.

Bila melakukan pencarian di platform atau laman seperti LinkedIn atau JobStreet di Indonesia, tidaklah sulit menemukan lowongan kerja dengan posisi “content moderator.” Beberapa perusahaan outsourcing yang mengiklankannya juga turut disebutkan dalam berita-berita yang ditulis tadi (cek referensi di bawah).

Trennya memang begitu. Jasa content moderation semakin banyak di-outsource ke negara-negara berkembang. Di luar faktor bahasa dan konten yang sifatnya relevan hanya di negara-negara tersebut, platform media sosial semakin diuntungkan dengan skema ini karena mereka bisa merekrut pekerja dengan upah jauh lebih murah.

Akan lebih jahat lagi jika mereka sengaja menyasar negara yang regulasi tenaga kerjanya longgar atau sedang mengalami krisis ekonomi. Di masa ketika mencari kerja itu sulit minta ampun, dibayar murah untuk menonton ratusan konten kekerasan setiap hari tiba-tiba bukanlah pilihan yang buruk.

Gabungkan itu dengan kebijakan bekerja secara remote. Sepintas kedengarannya bagus karena memberikan fleksibilitas untuk bekerja dari mana saja. Tapi di lain pihak, para content moderator bisa semakin sukar mengakses fasilitas konseling dan terapi dari kantor. Saling mendukung secara moral antara satu sama lain pun bisa menjadi sulit karena lokasi kerja yang terpencar.

Lalu kalau seandainya pihak perusahaan diprotes, ya sudah, tinggal pindah saja lalu merekrut di negara lain. Pekerja yang protes itu kontraknya tidak perlu diperpanjang, atau bahkan dipecat sekalian.

Mantan pemeran Spiderman Andrew Garfield pernah berkata seperti ini dalam sebuah wawancara:

“…people (are) feeling disposable, and (there’s) a value system that does not place value on the human soul, (it’s) a value system that places value on whether you have economic ability to contribute, or status, power….and what happens to those of us who feel exiled and discarded?”

Sungguh sebuah pendapat yang semakin relevan seiring waktu berjalan.

Content moderator ini ibarat orang-orang yang dikorbankan untuk menjaga citra positif korporasi media sosial di mata publik, yang pada akhirnya juga menjaga laba mereka. Dari sisi biaya pun, nilai mereka tidak berarti karena mereka dibayar murah.

Lalu bertolak belakang dengan profesi IT seperti software developer atau engineer dan data scientist yang begitu dibanggakan di era revolusi industri 4.0 ini, keberadaan content moderator ini seperti “disembunyikan.” Padahal, ketika para engineer dan data scientist itu bekerja dengan tujuan lebih untuk meningkatkan laba korporat, bisa dibilang content moderator bekerja justru lebih untuk kepentingan publik, yaitu menjaga agar konten media sosial kita tetap manusiawi.

Mereka seakan ditumbalkan untuk mengalami trauma, depresi dan sejumlah gangguan psikologis lainnya supaya kita tidak.


Beberapa referensi signifikan:

Vice: The Horrors of Being a Facebook Moderator

The Wall Street Journal: The Worst Job in Technology: Staring at Human Depravity to Keep It Off Facebook 

Washington Post: Content moderators at YouTube, Facebook and Twitter see the worst of the web and suffer silently

The Verge: Facebook moderators break their NDAs to expose desperate working conditions

Time: Inside Facebook’s African Sweatshop

Time: Behind TikTok’s Boom: A Legion of Traumatized, $10-A-Day Content Moderators

CNBC: TikTok is luring Facebook moderators to fill new trust and safety hubs

TED Talk: The Cleaners: The hidden world of content moderators

The Verge: Facebook will pay $52 million in settlement with moderators who developed PTSD on the job

Meta Investor Relations: Facebook Reports Fourth Quarter and Full Year 2020 Results

SAG-AFTRA Foundation Conversations: Andrew Garfield Career Retrospective