|

Rasanya Punya Halaman Ditebengi Warung Angkringan Darurat Sementara

Tulisan ini telah disunting dan dimuat di Mojok.co

Warung angkringan Sartini x Studio Satu.

Sudah tiga mingguan ini halaman rumah saya dipakai untuk tempat sementara jualan angkringan. Berjudul angkringan Sartini milik Mbak Sar/Mas Jum, mereka pindah lapak karena lokasinya yang semula, di seberang rumah, kena gusur proyek restorasi tembok Benteng Keraton. Tak hanya mereka. Bakul mie ayam dan juga puluhan warga di hadapan rumah saya sepanjang jalan pun harus pindah karena mereka tinggal di tanah milik Keraton.

Angkringan merupakan melting pot di mana manusia dengan beragam dosa dan latar belakang berinteraksi. Tak lupa, mereka sering buka sampai malam. Beroperasinya warung angkringan dadakan ini cukup mengobati kesepian dan rasa rawan kami yang sudah ditinggal pergi begitu banyak warga tadi.

Mbak Sar dan Mas Jum ini berasal dari Bayat, Klaten. Mereka tergabung dalam grup angkringan bernama Pak Jambul. Tidak hanya Mbak Sar dan Mas Jum saja membernya, tapi juga beberapa bakul yang berjualan di lokasi-lokasi lain di sekitar sini.

Sebelumnya, grup Pak Jambul menempati dua posko. Satu untuk taruh gerobak saat belum/tidak berjualan, lalu sebuah rumah sebagai tempat tidur yang kemarin juga tergusur. Sekarang, situasinya berbeda. Posko untuk gerobaknya masih di lokasi yang sama, tapi tempat beristirahat para member jadi terpencar.

Mas Jum tidur di bangku gerobaknya, yakni di halaman saya. Mbak Sar di posko gerobak. Sementara itu, Pak Jambul dan Bu Jambul pindah ke sebuah rumah masih di lingkungan sini, tapi ukurannya lebih kecil.

Mbak Sar cerita ke saya tentang satu member lain yang tempat istirahatnya sempat ngenes. Sebut saja namanya Paijo. Dia berjualan di depan SD Panembahan sini, sendiri. Saking bingungnya cari tempat istirahat, Paijo memilih untuk tidur di sebuah pos ronda, dan ini berlangsung berhari-hari. Pakaian dan barang keperluan lain secukupnya ia taruh di satu tas yang ia bawa kemana-mana.

Saya kasih backstory sedikit soal Paijo. Dia partner saya di bagian balungan (pemotongan tulang) saat penyembelihan hewan kurban tiga tahun terakhir di sini. Kata Mas Jum, Paijo yang spesyel karena made in Wonosari dan bukan Klaten itu pas mudanya ganteng dan digilai para wanita. Sekarang, ia berjuang cari uang untuk bayar kuliah anaknya di salah satu kampus di Jogja.

Baik Mas Jum/Mbak Sar dan Paijo itu sudah punya pelanggan rutin. Sekarang, meskipun rumah atau tempat jualannya kena gusuran, mereka mengusahakan gimana caranya para pelanggan itu nggak pindah ke lain angkringan. Tidur tiap malam di pos ronda pun dilakoni demi pelanggan puas dan anak bisa kuliah.

FYI, yang namanya Mbak Sar itu udah bakul angkringan paling idola di sini. Selain hafal minuman pesanan pelanggannya satu persatu, angkringan Mbak Sar juga rutin jadi tempat kurir nitip paket milik sebagian oknum warga yang sedang pergi….malah kadang diminta nomboki dulu.

Nomor telepon Mbak Sar juga sudah tersebar di banyak pelanggan yang, selain ingin pesan antar jarak dekat, kadang ingin konfirmasi dulu sebelum berkunjung: “Dodol ra, Mbak?” (hari ini jualan nggak, Mbak?). Ini karena saking populernya angkringan Mbak Sar, ada orang-orang yang seharusnya bisa jajan di angkringan yang lebih dekat dengan tempat mereka malah memilih untuk temu kangen dengan Mbak Sar.

Mbak Sar cerita kalau dulu pas dia libur panjang pas gusuran, banyak pelanggannya kebingungan, bertanya-tanya, Mbak Sar jualannya pindah kemana. Ada satu orang akhirnya memilih ke bakul angkringan lain dekat sini, sebut saja namanya Mak Sri (masih grup Pak Jambul). Tapi bukannya ngelarisi, dia malah nanya ke Mak Sri, “Angkringane Mbak Sar pindah ke mana e, Mak?”

Dasar pembeli nggak sopan.

Angkringan di Jogja itu ibarat hampir sebanding dengan pub di Inggris — minus layar TV. Sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga setempat. Lalu karena secara fisik si bakul atau bartender berdiri atau duduk berhadapan langsung dengan pelanggannya di meja yang sama, jadinya ada interaksi yang lebih personal di antara mereka seiring waktu berjalan, tidak seperti kalau kita pergi ke tempat makan model lain.

Banyak pelanggan pasti banyak cerita. Selain terkenal dengan ketawanya yang nyekakak, angkringan Mbak Sar juga dikenal sebagai pusat infotainment setempat (FYI, satu indikator kalau Mbak Sar sudah balik berjualan lagi setelah libur adalah: ketawa nyekakaknya udah kedengeran belum). Mbak Sar dan Mas Jum lebih tahu banyak tentang berita terkini setiap warga dibanding warga itu sendiri.

Secara umum, kita mungkin tidak berharap banyak untuk bisa belajar tentang efisiensi atau efektivitas kerja dari model bisnis angkringan. Kadang ada pelanggan yang entah suka nge-bon, nongkrongnya lama tapi jajannya sedikit, bisa juga bawa miras dan mabuk, atau bahkan kentut sembarangan (true story). Jajanan yang dijual pun mungkin untungnya nggak banyak, wong angkringan memang lebih identik dengan kaum menengah ke bawah.

Di lain pihak, dari bakul angkringan, kita bisa belajar soal customer retention — menjaga pelanggan supaya setia, lalu ketahanan fisik, serta konsistensi. Meski labanya cuma bisa sedikit-sedikit, tapi maju terus demi menafkahi keluarga. Nggak perlu lah banyak ngeluh soal pelanggan toksik, mental health, atau yang lain.

Ngeluh soal utangan?OMG, jangan diingetin deh.

Perkara pelanggan banyak, kadang kita suka ngeledekin Mbak Sar, “Kowe kie nganggo susuk opo tho Mbak, kok le dodolan laris men? (Mbak Sar itu pakai jimat apa sih Mbak, kok jualannya laris banget?).” Tanggapannya dia ya biasa: nyekakak.

Ada tiga kategori pelanggan yang sekarang rutin jajan di angkringan Mas Jum/Mbak Sar: para pekerja proyek tembok benteng, para pelanggan tetap yang bukan dari kampung sini, lalu yang terakhir adalah warga setempat.

Untuk pelanggan kategori pertama, ya udah lah ya, kita di sini interaksi dengan mereka seperlunya saja. Kita mengandalkan Mas Jum dan Mbak Sar untuk mengulik ada info terkini apa terkait proyek tembok benteng, misalnya seperti dua minggu lalu ketika ditemukan kerangka dan tengkorak manusia di bawah tanah yang digali untuk pondasi tembok.

Pelanggan kategori kedua, kita di sini asik-asik aja sih. Kadang bisa nambah-nambah teman dengan mereka. Malah, berhubung saya punya rumah yang wujudnya nggak umum yakni kontainer, kadang mereka ada yang mampir lihat-lihat dan nanya-nanya. Jadi nambah kenalan.

Pelanggan kategori terakhir, ini yang bikin kita senang. Selain supply wedang dan gorengan bisa terpenuhi kembali, situasi di sini bisa perlahan lebih hidup lagi, meskipun dengan masa depan yang belum pasti. Mau mengakui atau tidak, kehilangan begitu banyak warga itu rasanya berat. Itu adalah momen bersejarah yang membekas di hati kami dalam artian blas nggak ada enak-enaknya. Sekarang, rasanya jadi mendingan.

Bagi saya sendiri, rasanya punya halaman ditebengi angkringan so far masih baik-baik aja. Dulu di awal rasanya riskan ya. Nanti privasi gimana, kelakukan pelanggannya kalau nggak bener gimana, dan seterusnya. Tapi asal nggak pada rusuh sih Insya Allah masih oke-oke aja. Mas Jum/Mbak Sar pun tiap hari jadi bantu-bantu rawat halaman saya — selain ngasih saya akses jajan all you can eat nggak pake bayar.

Ya mudah-mudahan saja bisa baik terus. Ini belum tahu nih, besok kalau temboknya sudah jadi, mereka mau pindah kemana. Meskipun berbagai tawaran lokasi menghampiri Mas Jum/Mbak Sar, harapannya sih mereka masih memilih di sepanjang jalan ini ya.

Seminggu ini, Mas Jum/Mbak Sar sedang libur. Hampir semua bakul angkringan grup Pak Jambul libur karena beliau mau menikahkan anaknya di negeri Bayat sana. Pesta gedhen, ceritanya. Jadi, para pelanggan setia angkringan Sartini harus bersabar menahan lapar hingga minggu depan.

Konon, Paijo kini tidurnya sudah berpindah dari pos ronda, entah kemana (#savepaijo).