|

Startup di Gaza: Hidup-Mati di Tengah Kurang Modal, Pandemi, dan Serangan Roket Israel

Displaced Palestinians during their journey back to Gaza and the north via Al-Rasheed Street. © 2025 UNRWA Photo by Ashraf Amra

Awal 2022 lalu media barat dikisruhkan dengan sebuah foto di Instagram di akun aktris dan aktivis Emma Watson (lihat di sini). Foto itu bertuliskan kalimat berikut:

“Solidarity is a verb.”

Caption foto itu berbunyi sebuah kutipan dari Sara Ahmed, seorang feminis berdarah Pakistan-Inggris, tentang makna solidaritas.

Yang membuat media heboh adalah foto latar belakang yang digunakan, yaitu foto massa yang berdemonstrasi mendukung kebebasan Palestina lengkap dengan benderanya.

Rupanya, pemeran Hermione di Harry Potter dan Belle di Beauty and The Beast ini melakukan repost sebuah foto dari akun media bernama @badactivistcollective yang sudah mereka unggah pada Mei 2021 lalu.

Kata ‘Palestina’ hanya muncul di foto latar belakang massa tersebut. Di caption tidak ada sama sekali. Namun tentu saja, ia dicap sebagai antisemitik oleh politisi Israel.

Watson tidak berkomentar apa-apa, dan hingga saat ini foto itu masih ada.

Di awal tahun ini pula kita mendengar kekisruhan dari Silicon Valley. Pengadilan memutuskan bahwa Elizabeth Holmes, mantan CEO Theranos, bersalah atas tuduhan penipuan terhadap investor.

Theranos tadinya adalah startup yang memproduksi mesin tes darah yang dinamai Edison. Mengutip ArsTechnica, Holmes menjanjikan bahwa mesin ini bisa melakukan lebih dari 1000 pengujian dengan menggunakan hanya beberapa tetes darah saja. Ini merupakan revolusi di dunia medis karena normalnya, untuk pengujian yang berbeda, darah seseorang akan diambil lebih dari sekali dan volumenya juga lebih banyak.

Theranos berhasil mendapatkan pendanaan berkat hype di media dan FOMO di kalangan investor. Dengan nilai valuasi mencapai 9 milyar dolar, ia meraih status unicorn. Foto Holmes pun sempat membanjiri media-media massa di Amerika Serikat pada 2014-2015 (baca: Vox). Bahkan, ia digadang-gadang sebagai the next Steve Jobs dengan baju turtleneck hitamnya.

Ternyata, pengujian yang bisa dilakukan mesin Edison kemudian diketahui hanyalah 12 tes saja. Melansir Fortune, 10% dari 7,8 juta hasil tes darah yang dihasilkan mesin ini dari tahun 2013-2016 ternyata salah. Memang sih ‘hanya’ 10%, tapi ini urusannya menyangkut nyawa.

Theranos kini sudah berhenti beroperasi, dan Holmes tengah menunggu vonis hukuman dari pengadilan.

Kabarnya, kisah Holmes yang fenomenal ini mendorong Hollywood untuk membuat film seri “The Dropout” yang saat ini sudah tayang di Hulu. Versi bioskopnya juga katanya sedang dalam proses produksi.

Petualangan terbaru Sherlock Holmes dan John Watson ini (hehe) mengingatkan saya tentang liputan “Holy Land: Startup Nations” oleh Wired UK di tahun 2017:

Isinya adalah tentang bagaimana Silicon Wadi di Israel menjadi salah satu pusat ekosistem startup yang berkembang pesat di luar Silicon Valley di Amerika Serikat.

Ada beberapa bagian di video berdurasi 1,5 jam itu yang saya enggan menontonnya. Misalnya, bagian yang menyinggung sejarah berdirinya Israel dan tentang IDF (Israel Defence Forces) atau angkatan bersenjata Israel.

Tapi, video itu juga meliput tentang startup milik Palestina. Tentang upaya orang-orang muda di sana dalam memanfaatkan IT untuk menumbuhkan optimisme akan masa depan mereka di tengah pendudukan oleh pemerintahan apartheid Israel.

Amnesty International belum lama ini merilis laporan setebal 280 halaman yang menjelaskan secara rinci penindasan dan diskriminasi apa saja yang dialami oleh warga Palestina ini sejak berdirinya Israel di tahun 1948.

Diantaranya: perampasan rumah tinggal (ingat #SaveSheikhJarrah?), pembatasan ruang gerak warga dan juga barang, fragmentasi (pemisahan) wilayah tempat tinggal dengan aturan dan kendali yang berbeda (demi melemahkan ikatan antarsesama bangsa Palestina), diskriminasi dalam mengakses berbagai pelayanan publik dan berpolitik, pembatasan warga Gaza untuk menangkap ikan di perairan mereka sendiri, dan sejumlah lainnya.

Dan jangan lupa, banyak dari penindasan dan diskriminasi itu dilakukan dengan melibatkan kekuatan militer Israel (masih ingat juga kan tahun lalu mereka masuk secara paksa ke dalam Masjidil Aqsa?).

Berbicara tentang Palestina tentu tidak bisa melupakan Jalur Gaza. Ini adalah wilayah Palestina yang terdampak jauh lebih parah. Kalau kalian belum paham, wilayah Palestina saat ini terpisah secara geografi — dan politik — menjadi dua: Tepi Barat (termasuk Yerusalem timur) dan Jalur Gaza.

Jalur Gaza juga disebut-sebut sebagai penjara terbuka terbesar di dunia.

Akibat blokade sejak 2007, konflik bersenjata berulang kali (2008, 2012, 2014, 2021) dan kini ditambah pandemi COVID-19, World Bank menyebutkan bahwa tingkat pengangguran di Gaza yang berpenduduk 2 juta jiwa pada 2021 lalu ini mencapai 50%. Lebih dari separuh populasinya hidup dalam kemiskinan, dan 62% warganya rawan pangan.

Sungguh bertubi-tubi kesulitan hidup yang dialami orang-orang di sana.

Tapi, siapa sangka bahwa terlepas dari segala kondisi yang memprihatinkan itu, di Jalur Gaza ini terletak markas Gaza Sky Geeks (GSG).

Berdiri sejak tahun 2011 atas kerjasama Mercy Corps dan Google, kehadiran GSG menandakan awal pertumbuhan ekonomi digital di Gaza. Selain melatih orang-orang muda di sana untuk menjadi freelancer daring, GSG juga berfungsi sebagai akselerator startup. Yang lebih memukau lagi, setengah dari pesertanya adalah perempuan.

Satu artikel di Vanity Fair menceritakan kehadiran GSG dan sisi lain generasi muda di Gaza ini dengan menarik. Banyak dari mereka adalah orang-orang berpendidikan tinggi pekerja keras, bangga akan sejarah dan budaya mereka, dan terlepas dari segala kesulitan yang ada, ingin berkontribusi dalam persaingan global.

Mereka ingin memberontak dengan cara yang lain — serta menolak untuk dipandang sebagai kaum yang meminta dikasihani.

Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa mengembangkan startup di Gaza itu memang sangat sulit.

Menggabungkan analisis dari Wamda (akselerator wirausaha di Timur Tengah) dan laporan Amnesty International tadi, terbatasnya pendanaan merupakan kendala besar berkembangnya startup di Palestina.

Selama ini, perekonomian Palestina banyak bergantung dari donasi luar negeri. Selain instabilitas politik, ini juga akibat dari blokade Israel dan diskriminasi dalam kegiatan perdagangan termasuk ekspor dan impor.

Jangankan ekspor/impor barang. Karena tingginya pengangguran, sekitar 70 ribu warga Palestina di Tepi Barat (angka tahun 2018) memilih untuk mencari pekerjaan di wilayah Israel. Ini artinya mereka harus mengantri di salah satu dari 11 titik pemeriksaan bahkan bisa mulai dari jam 3 pagi, setiap hari.

Wujud tempat dan antriannya seperti apa, kalian lihat saja sendiri. Sebuah esai foto di Al Jazeera cukup memperlihatkan situasi yang memilukan ini:

Supaya lebih meresap, berikut penuturan dari seorang warga di esai tersebut:

“Semua orang mencoba mencari nafkah dengan bekerja di wilayah Israel. Mereka pergi dengan tanpa merasa yakin apakah mereka akan pulang ke keluarga mereka atau tidak. Hanya Tuhan yang tahu. Ini adalah sebuah tragedi yang besar.”

Itu di Tepi Barat. Warga Palestina di Gaza lebih sulit dan terbatas lagi mencari kerja di wilayah Israel. Ini karena Gaza adalah wilayah Palestina yang dikuasai Hamas yang oleh Israel, dianggap sebagai kelompok teroris.

Tertinggalnya perekonomian juga turut membatasi pemerintah Palestina untuk turut mendanai startup.

Semua itu berkontribusi terhadap minimnya success story terkait startup di Palestina apalagi Gaza, dan ini membuat calon investor (khususnya dari luar) enggan menanamkan modalnya.

Sebagai gambaran, Wamda tadi menuliskan bahwa total dana yang dikumpulkan para startup Palestina hingga pertengahan 2021 lalu adalah sebesar 150 juta dolar AS. Bandingkan dengan startup Israel yang dalam semester pertama 2021 saja mengumpulkan dana sebesar 10,5 milyar dolar AS.

Bandingkan juga dengan startup di Silicon Valley. Skandal Theranos tadi menunjukkan bahwa keputusan sebagian investor di sana untuk berinvestasi sudah tidak lagi didahului dengan proses analisis atau due diligence yang mendalam. Dibandingkan dengan jumlah startup yang ada, uang yang tersedia sudah terlalu banyak. Jadi, cukup karena FOMO aja — dan mungkin gak sabaran ingin cuan lebih banyak lagi.

(Theranos itu hanya satu dari sekian startup penuh skandal di Silicon Valley. Sebelumnya ada skandal WeWork, Uber, dan skandal startup lainnya kalau kalian mau searching).

Artikel di Reuters mendukung fenomena ini. Berlimpahnya dana di kalangan investor global juga telah ‘memaksa’ mereka untuk berburu startup di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Sultan mah bebas….ya nggak?

Jalur Gaza dirusak parah ketika konflik Palestina-Israel 11 hari di bulan Mei 2021 lalu. Perang yang melibatkan serangan roket ini menewaskan lebih dari 260 warga Palestina termasuk diantaranya 66 anak-anak (data dari World Bank di atas).

Tentu saja, ada banyak bangunan yang hancur.

Para founder startup di Gaza selalu dihantui risiko bahwa suatu hari mereka menemukan gedung yang melambangkan jerih payah dan optimisme mereka itu musnah begitu saja menjadi puing-puing. Sayangnya, beberapa dari mereka mengalami hal ini ketika konflik 11 hari itu.

Melansir Vice dan TRT World, satu contohnya adalah gedung milik Tashkeel3D, sebuah startup 3D printing yang memproduksi peralatan medis sejak 2016.

Salah satu produk Tashkeel3D adalah tourniquet, alat untuk menghentikan pendarahan. Ini adalah inisiatif yang muncul dari perang Palestina-Israel di Gaza di tahun 2014. Di perang itu, lebih dari 2200 warga Gaza meninggal (mayoritas warga sipil — angka dari The Guardian) dengan salah satu penyebab utamanya adalah kehabisan darah.

Apa yang kemudian dilakukan Tashkeel3D ini jelas krusial bagi warga Gaza.

Ini juga karena blokade yang dilakukan Israel sangat mempersulit Gaza untuk mengimpor peralatan medis.

Jadi, warga Gaza ini dikurung. Kalau ada konflik bersenjata, militer Israel bisa dengan mudahnya membombardir mereka. Tapi ironisnya, keluar-masuknya peralatan medis dan segala sumber daya yang perlu diimpor ke Gaza untuk proses pengobatan dan rekonstruksi pun dikendalikan oleh Israel.

Sungguh keji sekali, bukan?

Hancurnya gedung Tashkeel3D memenuhi pikiran founder-nya, Mohammed Abu Matar, dengan sekian pertanyaan tentang bagaimana ia akan bisa mencukupi kebutuhan peralatan medis di Gaza justru di saat masa kritis seperti pandemi COVID-19 ini.

Namun demikian, ia sudah berniat untuk membangun kembali fasilitas produksinya itu. Setelah konflik berakhir, ia membuka donasi di laman GoGetFunding untuk mencari pendanaan dan berhasil mendapatkan total 50 ribu dolar AS.

Kepada Vice, ia berkata seperti ini:

“Saya memilih untuk bekerja di Gaza dan mengabdi kepada rakyat saya, dan saya menyadari cakupan risiko yang akan saya hadapi dalam segala halnya. Tapi saya tidak pernah membayangkan kalau apa yang sudah saya bangun akan hancur seluruhnya dan kembali ke nol. Saya merasa tenang dan damai ketika menerima berita itu. Kehidupan di Gaza mengajarkan kami untuk menjadi kuat dan koheren, tapi kenangan indah saya bersama perusahaan ini lenyap di hadapan saya dalam hitungan detik dan saya merasa sedih.”

___

Jangan lupa juga, Indonesia melalui MER-C punya rumah sakit di Gaza.